Dosis Herba yang Pas adalah Salah Satu Syarat Kesembuhan

Pernah mendengar hadis Rasulullaah ShallAllaah 'alayhi wasallam tentang pengobatan sakit perut atau diare di bawah ini?

"Dikisahkan dalam Shahih Bukhari sebuah hadis bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ShalAllaahu 'alayhi wasallam mengadukan keadaan saudaranya yang sakit perut dan diare, kemudian Rasulullah ShalAllaahu 'alayhi wasallam bersabda : Berilah dia madu. Sahabat inipun memberikan saudaranya madu. kemudian sahabat ini kembali menghadap Rasulullah ShalAllaahu 'alayhi wasallam dan berkata : Ya Rasulullah, saya sudah memberinya madu tapi belum sembuh juga diarenya. Rasulullah ShalAllaahu 'alayhi wasallam bersabda : Berilah dia madu. lagi-lagi sahabat ini kembali menghadap Rasulullah untuk ke tiga kalinya dan berkata : Ya Rasulullah, saya sudah memberinya madu tapi belum sembuh juga diarenya dan begitu terus kejadiannya sampai  keempat kalinya dan Rasulullah ShalAllaahu 'alayhi wasallam bersabda : Allah itu benar dan perut saudaramu yang bohong, beri dia madu. Sahabat inipun kembali memberi saudaranya minum madu dan dia pun sembuh."

Sebenarnya apa yang salah dengan pengobatan penyakit dengan cara meminum madu? yang di hadits itu diberikan sampai empat kali dan baru bisa sembuh?. Padahal madu adalah salah satu dari tiga cara penyembuhan selain bekam dan kay (penyembuhan dengan besi panas walau Rasulullaah ShalAllaahu 'alayhi wasallam tidak menyukai dan melarang kita melakukan pengobatan kay ini). Ternyata hikmah dari pemberian madu sampai empat kali adalah dosis yang belum mencukupi untuk kesembuhan si sakit saat itu. Jadi ketika si sakit minum madu pertama kali, dosisnya kurang, kedua kali, dosisnya masih kurang juga, begitu juga untuk yang ke tiga sampai ke empat kalinya baru dosisnya mencukupi dan itulah ternyata salah satu syarat kesembuhan yaitu dosis yang pas atau tepat.
dosis yang tepat salah satu syarat sembuhnya penyakit
Dosis yang tepat, salah satu syarat kesembuhan

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dituliskan dari seorang sahabat yang bernama Jabir, dari Rasulullaah ShallAllaahu 'alayhi wasallam beliau bersabda bahwa setiap penyakit itu ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allaah subhaanahu wata'ala.

Kalau dalam dunia kedokteran kita pasti sudah sering mendengar tentang dosis, Berapa kali sehari obat tersebut harus kita minum. Tapi dalam dunia herba, berdasarkan buku Perubatan Jawi, Teknik Diagnosa dan Perawatan yang ditulis oleh Tn. Haji Ismail bin Haji Ahmad dikatakan bahwa dosis mencukupi itu berdasarkan berat badan si sakit yaitu per 10 kg berat badan membutuhkan 1 gram herba setiap hari (1 gram = 3-4 kapsul). Jadi pastilah akan berbeda ukuran dosis antara orang yang beratnya 40kg dengan orang yang beratnya sampai 90kg.

Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengatakan dalam Fathul Baari bahwa:
“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur,  kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan dan daya tahan fisik… karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit, jika dosisnya berkurang maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih dapat menimbulkan bahaya yang lain.”

Tetapi yang perlu diyakini adalah bagaimanapun juga, dosis yang tepat sebagai syarat kesembuhan ini hanya sebagai suatu perantara saja, hanya sebagai suatu ikhtiar bagi manusia karena bagaimanapun tepatnya suatu obat untuk suatu penyakit, bagaimanapun pas nya dosis suatu obat, jika Allaah belum mengizinkan si sakit untuk sembuh, maka dia tidak akan sembuh. Dokter dan obat hanyalah sebagai sarana mencapai kesembuhan sedangkan Allaah lah yang Maha Penyembuh.

Saya merupakan salah satu orang yang sangat percaya akan kesembuhan suatu penyakit, penyakit apapun itu, dalam proses kesembuhannya akan sangat bergantung pada mindset atau pola pikir si sakit itu sendiri. Ketika si sakit sabar dalam menghadapi penyakitnya, menyadari bahwa kondisi sakit ini adalah kondisi yang terbaik baginya dari Allaah dan dia sadar ketika dia bisa melaluinya dengan sabar maka penyakit itu akan menjadi penggugur dosa-dosanya, maka jika si sakit mempunyai pola fikir seperti itu, separah apapun sakitnya, dia akan dapat bertahan dan ini in shaa Allaah akan dapat mempercepat proses kesembuhan si sakit tersebut tentunya setelah melalui pengobatan yang tepat dan dosis obat yang tepat pula. Sedangkan orang lain yang mengidap penyakit yang sama dengan level keparahan yang sama dengan dokter bahkan dengan resep dan dosis obat yang sama dengan orang yang pertama tadi tetapi jika penyakitnya tidak dihadapi dengan kesabaran dan tidak dihadapi dengan berserah diri kepada Allaah maka dia akan terus mengeluh, mengeluh dan mengeluh dan akan berdampak pada lamanya proses kesembuhan bahkan mungkin menjadi keparahan. Jadi kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan kepada Allaah akan sangat sangat membantu seseorang mencapai kesembuhan suatu penyakit.

Ada banyak cerita yang mengisahkan bahwa seseorang yang sakit kemudian berobat ke spesialis yang di sana pastinya banyak sekali pasien yang mengidap penyakit yang sama dengan orang tersebut. Tetapi banyak di antara mereka yang sembuh melalui pengobatan itu tapi ada beberapa dari mereka yang tidak kunjung sembuh bahkan sakitnya bertambah parah. Salah satunya yang telah disebutkan tadi, ini terkait dengan mindset. Bisa jadi orang tersebut kurang yakin dengan dokternya, atau kurang yakin dengan cara pengobatannya atau bahkan kurang yakin dengan obat yang diberikannya. Mindset keyakinan tentang kesembuhan itu sangat mendukung dan sangat sangat berdampak pada kesembuhan si sakit itu sendiri. Karena itulah ketika kita berobat, usahakan kita berobat ke tempat yang kita yakini akan tata cara pengobatannya (misalnya bukan pengobatan ke dukun atau pengobatan syirik lainnya, tetapi ke pengobatan syar'i seperti bekam atau herbal) juga kita harus yakin akan dokternya dan setelah itu kita serahkan semuanya kepada Allaah. In shaa Allaah biidznillaahi ta'aala kesembuhan akan didapatkan.

Rahasia Tidak Boleh Meniup Makanan dan Minuman

Islam mengajarkan semua hal dalam kehidupan mulai dari yang besar misalnya tata cara bernegara sampai dengan tata cara pergaulan antar manusia. Dari bidang politik, hukum, ilmu penngetahuan, olah raga, kesehatan dan semua bidang kehidupan. Coba ambilkan contoh satuuuuuu aja yang ga ada dalam ajaran Islam. In shaa Allaah Anda tidak akan menemukannya karena sekecil apapun ada hukumnya dalam Islam.

Allaah yang menciptakan kita dan Allaah lah yang maha tau apa yang terbaik untuk kita. Sehingga jika Allaah memerintahkan sesuatu PASTILAH sesuatu itu baik untuk kita dan sebaliknya jika Allaah melarang sesuatu, PASTILAH sesuatu itu tidak baik untuk kita bahkan mungkin akan berbahaya bagi kita.

Salah satu contoh pelarangan Allaah yang mungkin bagi kita adalah sesuatu yang sangat kecil dan tidak bermakna tapi ternyata di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar bagi kesehatan manusia yaitu pelarangan tentang tidak bolehnya meniup makanan atau minuman ketika dalam keadaan panas. 

kenapa tidak boleh meniup makanan dan minuman
Larangan meniup makanan dan minuman
Disebutkan dalam hadis Ibnu Abbas RadhiAllaahu 'anhu bahwa Nabi ShallAllaahu 'alayhi wasallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas (H.R. Ahmad 1907, Turmudzi 1888 dan disahihkan oleh Syuaib Al-Arnauth).
dalam hadis lain dari Abu Qatadah RadhiAllaahu 'anhu, Rasuulullaah ShallAllaah 'alayhi wasallam bersabda: "Apabila kalian minum, jangan bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan...(H.R. Bukhari 153).

Sekali lagi mungkin bagi kita ini adalah hal yang sepele, tetapi pada kenyataannya setelah dilakukan penelitian ternyata hasilnya air panas (H2O) yang mungkin ada dalam makanan atau minuman kemudian bertemu dengan karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan dari mulut kita melalui tiupan maka persenyawaan tersebut akan menghasilkan H2CO3 yaitu asam karbonat dan jika asam karbonat itu masuk ke dalam tubuh maka akan dapat menyebabkan efek pengeroposan gigi, iritasi lambung dan penyakit lainnya sampai bisa juga menyebabkan sakit jantung.

Jadi alangkah baiknya untuk tidak meniup makanan atau minuman ketika masih panas. Karena dengan tidak melakukan itu dengan niat melaksanakan hadis Nabi atau melaksanakan sunnah, maka kita akan mendapatkan pahala disamping kita tidak akan mendapatkan bahayanya dan tubuh kita akan sehat in shaa Allaah.

Dengan mengikuti sunnah, maka kita akan sehat :)